Seni Berdakwah Di Dunia Maya

[Oleh-oleh Seminar Internet Ethics, Ahad, 26 Januari 2014 di Ibnu Hajar Boarding School] pemateri : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, MA.

Keramahan di Tengah Kepedihan Perang di Suriah

Sejak zaman jahiliyyah, bangsa Arab sudah dikenal sebagai bangsa yang suka memuliakan tamu. Hingga kini, ketika tim relawanPeduli Muslim datang ke Suriah negara yang penduduknya dari bangsa Arab.

Adab Makan Penuh Barokah (2)

Keenam: Tidak menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai.

Ketemu @wifi_id Tapi belum Memiliki username dan password?

Sebagai operator layanan telekomunikasi yang berkomitmen terhadap penyediaan akses Internet broadband bagi masyarakat Indonesia, PT. Telekomunikasi Indonesia telah mencanangkan program Indonesia Digital Network (IDN) yang didalamnya termasuk pembangunan fasilitas 1 juta wifi di seluruh Indonesia yang diberi nama Indonesia WiFi atau disingkat @wifi.id. Layanan....

Showing posts with label Adab dan Akhlaq. Show all posts
Showing posts with label Adab dan Akhlaq. Show all posts

Wednesday, 3 December 2014

Ngobrol Dengan Nasrani (6)


Diantara yang saya obrolkan dengan lelaki nasrani di kereta SANCAKA SORE seputar banyaknya tokoh muslim yang krupsi. Banyak pejabat muslim yang nota bene adalah ahli agama, namun akhir dari karirnya mendekam di penjara karena korupsi. Demikian lelaki nasrani itu mengeluhkan sebagian dari bobroknya negri ini, akibat dari merajalelanya praktek korupsi.
Nampaknya, lelaki itu tidak lagi mampu menguasai emosinya, sehingga ia lebih lugas mengutarakan pandangannya yang negatif tehadap Islam dan ummatnya.
Mendengar serangan yang sangat menohok ini, saya berusaha untuk tetap tenang dan menguasai emosi saya, hingga lelaki itu benar-benar meluapkan isi hatinya dan selesai dari ucapannya.
Menanggapi serangan balik dari lelaki itu, saya mulai menyusun jawaban dari yang paling ringan dan simpel. Saya berkata kepadanya: pak, apa yang bapak utarakan benar adanya, saya tidak memungkiri apalagi membela diri. Namun bapak perlu menyadari bahwa apa yang bapak utarakan di atas adalah bagian dari konsekwensi bapak tinggal di negri dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam.
Bila bapak ingin mengetahui dan merasakan bagaimana hidup di negri yang korptor dan penjahatnya dari ummat nasrani, maka silahkan tinggal di negri yang penduduknya didominasi oleh ummat Nasrani. DI sana bapak pasti mendapatkan bahwa kebanyakan koruptor dan penjahatnya dari ummat nasrani dan bukan dari ummat Islam.
Dari sisi lain, bapak juga harus sadar bahwa kebanyakan pejuang atau pahlawan dan orang-orang baik di negri ini juga dari umat Islam, bukan dari ummat Nasrani.
Fakta ini mengahruskan kita berpikir bijak dan adil serta jauh dari emosi pribadi yang menyebabkan kita berpikir sempit. Karena itu, menurut saya agama kita tidaklah mengajarkan ummatnya untuk berbuat jahat, hanya saja dari ummat islam sebagaimana juga ummat nasrani ada oknum oknum yang berbuat jahat.
Perilaku oknum ummat Islam bukanlah cermin apalagi mewakili agama Islam. Sebagaimana perilaku ummat nasrani belum tentu mencerminkan atau mewakili ajaran nasrani. Sebagai contohnya: sebatas yang saya ketahui, tuhan yang bapak sembah yaitu Yesus atau menurut kami adalah nabi Isa alaihissalam berjenggot lebat. Paling kurang demikianlah yang tergambar pada berbagai patung atau poster Yesus.
Namun demikian, saya heran mengapa ummat nasrani di berbagai belahan dunia tidak berjenggot. Kondisi ini menjadikan saya bernya tanya: ada apa, mungkinkah ummat nasrani tidak meneladani tuhannya ataukah tuhannya yang salah dalam berpenampilan.
Dari sisi lain, bapak juga harus memahami bahwa Islam diturunkan agar menjadi pedoman hidup ummat manusia yang harus diamalkan secara sadar bukan dengan paksaan. Karena itu manusia dibekali dengan akal sehat agar dapat memahami,memikirkan dan membandingkan.
Dengan demikian ummat manusia dapat membedakan antara yang baik dari yang buruk, dan selajutnya memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. Adapun bila masih tetap ada orang yang memilih perilaku buruk maka islam juga telah memiliki berbagai solusinya. Pencuri di potong tangannya, pembunuh dibalas dengan dibunuh, dan demikian seterusnya. Dan kelak di akhirat Allah menyiapkan siksa di neraka sebagai balasan atas amalan buruknya.
Apa yang bapak utarakan sejatinya adalah bagian dari keindahan Islam yang tidak mengenal kultus atau fanatik buta. Siapapun yang berbuat jahat maka ia harus menanggung akibat dari ulahnya. Karena itu dahulu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( إنما أهلك الذين قبلكم أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد وايم الله لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها )


Sejatinya yang menyebabkan ummat-ummat sebelum kalian mengalami kehancuran ialah sikap mereka yang pilih kasih. Bila yang mencuri adalah orang terhormat alias bangsawan maka mereka membiarkannya. Namun bila yang mencuri adalah rakyat jelata, maka menerak menegakkan hukum pidana kepadanya. Sungguh demi Allah, andai Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. (Muttafaqun ‘alaih)
Mendengar jawaban saya ini lelaki itu berkata: benar, saat ini yang ada adalah pilih kasih dan perilaku yang berstandar ganda. Akibatnya terjadi kekacauan dan hilangnya kepastian hukum di negri ini.
Sobatku! Sejatinya masih banyak tema yang saya bicarakan dengan lelaki nasrani itu. Kami berdiskusi sejak dari stasiun Solo Balapan Hingga tiba di stasiun Gubeng, sekitar 4,5 jam lamanya. Namun karena berbagai hal, maka saya cukupkan sampai di sini saja yang perlu saya ceritakan, semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi antum sekalian, dan semoga Allah Ta’ala melimpahkan istiqamah dan husnul khatimah kepada kita semua, amiin.

Selesai........

Ngobrol Dengan Nasrani (5)



Diantara tema pembicaraan yang saya bicarakan dengan teman duduk seorang nasrani di kereta SANCAKA SORE ialah tentang pendidikan anak.
Bapak tersebut menceritakan perihal pengalaman hidupnya yang hanya lulusan sekolah dasar, namun untuk urusan kemampuan inteligensi dan pengetahuannya tidak kalah dengan lulusan perguruan tinggi. Bahkan pada prakteknya, ketika mengerjakan proyek pengerjaan elevator, sering kali ia mampu mengerjakan dan menyelesaikan masalah masalah yang tidak dapat dilakukan oleh seorang sarjana.
Ia menuturkan bahwa dirinya memiliki keuletan, dan semangat bekerja yang tetap berkobar walau telah berkepala enam alias berumur lebih dari enam puluh tahun. Ia memulai bisnisnya dari nol, diawali dari seorang kuli yang haus akan pengalaman dan penuh dengan rasa ingin tahu.
Ia mengeluhkan pendidikan kondisi anak muda zaman sekarang yang cengeng, lemah mental namun banyak bertingkah ( sok hebat ).
Setelah sekian banyak bercwrita tentang perjalanan hidupnya mencari pengalaman dan pengetahuan, dan saya hanya mendengarkan dan sesekali menimpalinya, maka tiba saatnya saya berkomentar.
Saya memulai komentar saya dengan berkata : pendidikan yang ada saat ini lebih menekankan pada pengembangan pengetahuan semata. Adapun pendidikan perilaku apalagi moral ( akhlaq ) maka benar benar jauh dari dunia pendidikan kita saat ini.
Bahkan kebanyakan orang tua saat ini tanpa sadar menjadikan anak anaknya menjadi seperti yang bapak sampaikan, malas, lemah mental dan hidup foya foya.
Banyak orang tua yang berkata kepada anaknya; nak, kamu fokus belajar saja, ndak usah ikut bekerja bersama ayah atau ibu. Ayah atau ibu lebih bangga bila engkau mendapat nilai 100 dibanding bisa masak atau menanam atau ikut menjaga toko atau mengerjakan pekerjaan ini dan itu.
Banyak orang tua beranggapan bahwa masa depan anaknya akan moncer bila anaknya selalu mendapatkan nilai 100 di sekolahnya.
Pemikiran semacam ini menurut hemat saya menyelisihi fakta, karena untuk urusn masa depan alias pekerjaan apalagi penghasilan tidak identik dengan pendidikan. Betapa banyak orang yang rendah pendidikannya atau lemah ketika sekolah, namun berkat keuletan dan semangat kerjanya yang bak baja "sukses" menjadi orang kaya raya.
Fakta membuktikan bahwa urusan rejeki adalah urusan karunia Allah, bukan urusan pendidikan. Karena itu makhluq makhluq lain seperti burung misalnya, tidak pernah menempuh pendidikan namun hidup bahagia. Bahkan burung sering kali dijadikan simbul sukses manusia; betapa banyak manusia yang merasa bahwa di antara indikator orang sukses ialah bila telah mampu memiliki beraneka ragam burung yang mampu berkicau bagus. Mungkinkah manusia kalah dengan burung?
Burung di pagi hari riang gembira, karena itu biasnya burung burung berkicau di pagi hari, dan ketika matahari telah mulai terik semua burung diam dan sibuk bekerja mencari makan. Dan bila sore hari telah tiba, maka kembali burung berkicau riang sebagai gambaran akan rasa syukur dan kepuasan dengan apa yang telah mereka dapatkan.
Setahu saya juga tidak ada burung yang membuat lumbung atau menimbun. Sebagaimana tidak ada burung yang memakan makanan burung lainnya. Hng makanannya biji bijian, maka tidak akan makan pisang, dan yang makanannya pisang tidak akan memakan madu bunga dan demikian seterusnya.
Dan bila malam hari tiba semua burung beristirahat , tidak bekerja dan tidak pula berkicau. Setahu saya hanya burung "HANTU" yang bekerja di malam hari.
Kondisi ini sangat berbeda dengan manusia, betapa banyak manusia yang bekeja lembur, siang berlanjut malam. Walau demikian tetap saja merasa belum cukup, pesimis terhadap masa depan, sehingga perlu mengikuti berbagai program asuransi, dan banyak yang menghalalkan segala macam cara untuk mengeruk penghasilan lalu menimbunnya.
Betapa banyak manusia yang menghalalkan segala macam cara untuk mengetuk pendapatan, termasuk merebut hak orang lain. Walau demikian kita masih merasa kekurangan dan dirundung kekawatiran akan hari esok. Karena itu, nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memotifasi ummat Islam dengan bersabda:

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله، لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا 

Jikalau kalian benar benar bertawakkal (berserah diri) kepada Allah, niscaya Allah melimpahkan rejeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rejeki kepada burung, yang di pagi hari keluar dari sangkarnya dalam kondisi lapar dan di sore hari pulang lagi ke sangkarnya dalam kondisi kenyang. ( Ahmad dll )
Karena itu, untuk urusan pendidikan, sepatutnya kita meluaskan arti pendidikan kita, sehingga mencakup pendidikan mental, kecerdasan pikiran alias ilmu pengethuan dan juga kecakapan perilaku, dan tidak kalah penting mencakup pendidikan idiologi atau iman.
Dikisahkan bahwa suatu hari ada seorang wanita di depan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memanggil putranya, dengan berkata: nak, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.
Mendengar panggilan wanita itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada wanita itu: apa yang hendak engkau berikan kepadanya? Wanita itu menjawab: aku hendak memberinya sebiji kurman. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menimpali jawaban wanita itu dengan bersabda:

أما إنك لو لم تفعلي كتبت عليك كذبة
Ketahuilah bahwa: jika engkau tidak memberinya apapun, maka ucapanmu ini telah dicatat sebagai satu kedustaan. ( Ahmad dan lainnya )
Di negri kita, bahkan di keluarga kita, pendidikan hanya dikaitkan dengan ilmu pengetahuan semata. Adapaun moral. Akhlaq, apalagi keimanan benar benar telah di abaikan. Maka itu lahirlah generasi seperti yang bapak keluhkan.
Berkaitan dengan pekerjaan, islam mengajarkan bahwa kita harus bersikap mulia dan produktif, sehingga mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan bahkan mampu menyantuni orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Bila Engkau pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar lalu engkau memikulnya, dan dari hasil penjualannya engkau bersedekah dan tentunya mencukupi kebutuhanmu sendiri sehingga tidak butuh kepada uluran tangan orang lain, maka itu lebih baik dari pada engkau meminta minta kepada orang lain, baik orang itu memberimu atau menolak permintaanmu. Sejatinya tangan yang berada di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah. Dan untuk urusan nafkah, maka mulailah dari orang yang menjadi tanggung jawabmu. ( Muttafaqun alaih)

Bersambung ....

Sumber : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri

Ngobrol Dengan Nasrani (4)


Diantara yang saya bicarakan dengan bapak tua nasrani di kereta SANCAKA SORE selama perjalanan dari Solo menuju ke Surabaya ialah berbagai masalah tentang ekonomi.
Bapak itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengusaha elevator, karena itu tema seputar perdagangan tidak luput dari pembicaraan kami berdua. Ia menyatakan bahwa pemerintah kita gagal dalam membangun perekonomian, sehingga produk dalam negri banyak yang gulung tikar hingga akhirnya kebanyak produsen kita beralih status sebagai pedagang atau agen produk luar negri alias importir saja.
Pasar kita dibanjiri oleh produk produk murahan dari negri tirai bambu dan lainnya, menggantikan produk produk bermutu yang dihasilkan oleh anak bangsa.
Mendengar penuturan bapak tadi, saya menimpalinya dengan berkata, benar pak, perekonomian kita maju pesat, padahal negara negara maju saat ini sedang limbung perekonomiannya. Akibatnya banyak perusahaan dan investor mereka yang berbondong bondong ke negri kita.
Kehadiran investor asing dan produk asing benar benar menjadi ancaman bagi kita, karena fundamental perekonomian kita rapuh. Dan menurut hemat saya ada beberapa faktor yang menjadikan kita mengalami hal ini:
1) idiologi kita rapuh, yang mengakibatkan masyarakat kita tidak loyal kepada produk negara sendiri. Alih alih loyal, masyarakat kita masih bermental bangsa terjajah, merasa bangga bila menggunakan produk luar negri dan sebaliknya risih alias kurang pede atau rendah diri bila menggunakan produk dalam negri.
2) Banyak pengusaha kita yang tergiur untuk ekspor luar negri, sedangkan pasar dalam negri belum ia optimalkan. Karena itu ketika pasar luar negri mengalami kelesuan, maka pengusaha kita banyak yang tumbang, karena di dalam belum kuat dn di luar lesu. Sedangkan pengusaha luar negri telah mencapai titik jenuh di dalam negrinya sana, baru menggarap pasar luar negri. Akibatnya mereka berpesta dengan pasar kita sedangkan kita harus tersingkir di negri sendiri.
3) Negara kita terus berupaya menyetabilkan nilai tukar dolar, sedangkan negara barat tidak terlalu terbebani dengan masalah krus nilai tukar dolar. Padahal sektor keuangan inilah sejatinya yang selama ini menjadi beban bagi perekonomian kita. Krisis ekonomi 1997-1998 menjadi buktinya. Produksi bagus, dan konsumsi masyarakat bagus namun perekonomian negara kita hancur, akibat dari rapuhnya dunia perbankan kita.
Karena itu dalam sistem ekonomi Islam, sektor keuangan, jual beli mata uang diwaspadai dan harus mengikuti persyaratan yang sangat ketat, karena berlaku padanya hukum hukum riba.
Pertukaran valuta asing dalam islam harus dilakukan secara tunai dan benar benar terjadi serah terima fisik, bukan sekedar simbolik. Dengan demikian mata uang tetap berada pada perannya yang sejati yaitu sebagai alat transaksi dan bukan sebagai obyek transasksi. Mata uang dalam sistem ekonomi islam berperan sebagai pelicin perekonomian agar dapat berputar dengan mudah, sedangkan obyek ekonomi yang sebenarnya ialah barang dan jasa.
Namun kini masyarakat kita telh menjadikan sarana ekonomi yaitu mata uang sebagai obyek ekonomi yang diperdagangkan dengan bebas. Sehingga perputaran uang melebihi kebutuhan dan melebihi perputaran barang dan jasa. Akibatnya terjadilah kekacauan ekonomi, yang kaya semakin kaya sedangkan yang kecil terus bertambah kecil.
Karena itu banyak pengusaha besar yang berlomba lomba mendirikan atau memiliki bank, guna mengumpulkan dana masyarakat. Dan bila dana masyarakat telah terkumpul di banknya, para pengusaha tersebut dapat menggunakannya untuk membeli kekayaan/aset masyarakat, yang kemudin dijual ulang kepada masyarakat, dan demikian seterusnya.
Para pengusaha kelas "paus" tersebut melalui bank-nya dapat mengumpulkan dana segar bermilyar milyar bahkan bertrilyun trilyun rupiah yang tentunya dapat mereka gunakan untuk membiayai usaha mereka. Sedangkan masyarakat yang banting tulang dan peras keringat harus merasa puas hanya dengan mendapatkan buku tabungan dan kartu ATM.
Inilah sekelumit kejamnya sistem ekonomi kapitalis yang kita jalani saat ini. Dan sistem semacam inilah yang dimaksudkan dan diperangi pada ayat berikut :
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ
Agar harta kekayaan itu tidak hanya berputar diantara orang orang kaya dari kalian saja. ( Al Hasyer 7)
Mendengar jawaban saya ini, bapak tersebut sidikit terkejut, dan segera mengalihkan pembicaraan ke tema lainnya.

Bersambung ....

Ngobrol Dengan Nasrani (3)


Diantara hal yang diutarakan oleh lelaki nasrani tersebut kepada saya ialah perihal pilihannya beragama nasrani. Menurut penuturannya, ia telah berpindah pindah dari satu agama ke agama lain, dari hindu ke islam,lalu ke nasrani,ndan katanya ia hanya mendapatkan hatinya di agama nasrani.
Akunya, Selama mencoba beragama hindu dan islam ia sama tidak merasakan adanya ketenangan dalam dirinya alias jiwanya tetap merasa hampa,mhingga ia merasa mantap beragama nasrani.
Saya mendengarkan penuturannya hingga ia selesai bercerita dengan sesekali menimpalinya dengan berkata: oooo, demikian ya pak?
Setelah ia selesai menceritakan pengalamannya berpindah pindah agama, giliran saya berkomentar.
Hal pertama yang saya ucapkan kepadanya adalah: pak, untuk urusan agama dan keyakinan bukan sekedar mantap, atau ketenangan, namun lebih pada urusan HIDAYAH alias PETUNJUK.
Karena itu sebaliknya juga banyak, betapa banyak orang nasrani yang berpindah agama ke islam dan mengaku bahwa selama pengalamannya menganut nasrani ia sama sekali tidak merasakan kedamaian dan selalu dalam kegersangan, hingga akhirnya Allah membuka pintu hatinya untuk memeluk Islam, dan akhirnya ia merasakan kedamaian.
Jadi kalau selama "mencoba" beragama islam bapak merasa tetap hampa, maka itu sejatinya Allah belum memberi hidayah atau belum membuka pintu hati bapak.
Karena bapak pasti menyadari bahwa agama kita sama sama disebut dengan agama samawi, alias berasalkan dari langit, alias bersumber dari Allah. Dengan demikian yang kuasa memberi hidayah atau membuka pintu hati adalah Allah. Berbeda dengan agama lainnya, yang berasalkan dari logika dan pengalaman pendirinya.
Diantara buktinya, dalam agama saya Islam, dan saya yakin dalam agama bapak juga sama, kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk alias hidayah kepada Allah. Andai urusan agama bergantung pada kenyamanan atau ketenangan semata, maka apalah artinya kita diajarkan untuk selalu berdoa memohon petunjuk kepada Allah?
Ditambah lagi, tidak merasakan ketenangan banyak faktornya, diantaranya karena bapak belum memahami seutuhnya agama yang bapak anut dengan sebenarnya. Betapa banyak orang yang beragama hanya mengenal lahirnya alias kulitnya namun belum memahaminya secara utuh, apalagi mengamalkannya secara sempurna.
Karena itu dalam Al Qur'an, kitab suci kami, ada perintah agar kita masuk alias menjalankan agama Islam secara menyeluruh.
(ادخلوا في السلم كافة)
Masuklah engkau semua ke dalam islam secara menyeluruh.
Agama saya, yaitu Islam bukan hanya mengatur urusan ibadah, namun seluruh aspek kehidupan kita juga diatur. Bahkan ayat terpanjang dalam kitab suci kami bukan yang mengatur urusan ibadah praktis, namun ayat yang berkaitan dengan aturan hutang piutang dan bagaimana tata cara membuat alat bukti.
Selanjutnya untuk menyisipkan pesan pada diri bapak itu, saya bertanya kepada bapak itu, dengan berkata: oh iya pak, bagaimana dengan agama nasrani, adakah aturan tentang perniagaan, rumah tangga, hukum pidana atau perdata?
Saya bertanya demikian, karena saya tahu bahwa dalam agama nasrani tidak ada aturan tentang aspek aspek kehidupan di atas.
Nampaknya bapak itu tidak menduga akan saya tanya demikian, sehingga ia agak terkejut' sehingga kikuk menjawab pertanyaan saya. Ia hanya menjawab: oo ya tentu saja ada. Padahal nyatanya -sebatas yang saya pelajari- tidak ada satu ayatpun dalam kitab Injil atau Taurat ( perjanjian baru atau lama) yang mengatur urusan urusan tersebut.

Bersambung ....

Ngobrol Dengan Nasrani (2)


Diantara pembicaraan yang berlangsung antara saya dengan lelaki nasrani di kereta SANCAKA SORE adalah masalah Syi'ah.
Karena saya secara terencana berusaha menyusupkan pesan pesan dakwah dalam pembicaraan saya, maka nampaknya bapak tersebut ingin melakukan hal yang sama kepada saya. Karena itu dia menanyakan perihal PERPECAHn yang terjadi di tengah tengah ummat Islam. Ada sekte AHMADIYAH dan juga ada sekte SYI'AH yang terus menimbulkan keributan di tengah tengah ummat Islam.
Mendapat pertanyaan semacam ini saya merasa dibukakan kesempatan lain untuk menitipkan pesan pada diri bapak tersebut.
Saya memulai jawaban dengan berkata: oo, masalah ini adalah masalah yang biasa terjadi di setiap ummat. Dan kondisi serupa terjadi pula pada ummat nasrani, ada ortodok, ada protestan dan ada pula sekte YEHUWA.
Sebagaimana ummat nasrani meyakini kesesatan sekte YEHUWA, maka demikian pula ummat islam meyakini kesesatan sekte AHMADIYAH DAN SYI'AH.
Sekte YEHUWA meyakini bahwa YESUS adalah manusia biasa, ia adalah seorang nabi bedanya menurut YEHUWA nabi isa adalah nabi terakhir, sedangkan kami UMMAT ISLAM meyakini bahwa nabi terakhir adalah NABI MUHAMMAD ALAIHISSALAM. YEHUWA juga meyakini bahwa Isa bukan tuhan, dan bukan pula anak tuhan. Mereka juga meyakini bahwa babi adalah haram, NYANYIAN GEREJ bukan ajaran nabi Isa, dan idiologi salib sesat karena nabi Isa alaihissalam tidak pernah dibunuh namu diangkat ke langit.
Sekte AHMADIYAH juga demikian halnya, mereka sesat karena meyakini bahwa mirza ghulam ahmad adalah nabi setelah nabi MUHAMMAD ALAIHISSALAM. Karena itu di negara asalnya, yaitu INDIA, PAKISTAN dan sekitarnya AHMADIYAH dianggap sebagai agama sendiri.
Sedangkan di negara kita ahmadiyah masih digolongkan sebagai bagian dari ummat ISLAM. inilah sejatinya yang menjadikan ummat Islam resah dan akhirnya timbul kerusuhan, karena idiologi ahmadiyah nyata nyata menyimpang dan menodai ajaran agama Islam.
Adapun SYI'Ah, maka mereka juga sekte menyimpang, karena meyakini bahwa sejatinya yang berhak menjadi nabi adalah ALI BIN ABI THOLIB. Menurut mereka malaikat Jibril Salah menyampaikan wahyu sehingga akhirnya nabi Muhammad yang menjadi nabi.
Sebagaimana sekte syi'ah juga meyakini bahwa keluarga nabi dan sahabat sahabatnya telah berkhianat dan keluar dari agama Islam. Karena terlalu jauh penyimpangan idiologi Syi'ah, maka wajar bila keberadaan mereka di tengah tengah ummat Islam selalu menimbulkan keresahan.
Kalau ummat nasrani termasuk bapak meyakini bahwa sekte YEHUWA sesat karena alasan perbedaan yang sangat jauh dalam urusan idiologi maka alasan itu pula y ang mendasari kami "ummat Islam" meyakini bahwa ahmadiyah dan syi'ah sesat.
Mendengar jawaban saya ini, bapak tadi segera berusaha mengalihkan pembicaraan ke tema lain. Bagi saya berganti tema pembicaraan tidak ada masalah karena menurut hemat saya, berbagai pesan telah berhasil saya sisipkan ke pikirannya. Semoga Allah membuka pintu hatinya untuka menerima hidayah.

Bersambung ....

Ngobrol Dengan Nasrani (1)


Suatu hari di pejalanan pulang dari SOLO ke SURABAYA dengan kereta SANCAKA SORE, saya duduk di sebelah seorang nasrani.
Setelah duduk, saya segera menyapa bapak tersebut. Betapa terkejutnya dia, disapa oleh seorang laki laki berjenggot celana cingkrang.
Saya berusaha terus ngobrol dengannya, hingga akhirnya suasana pembicaraan benar benar cair dan ia mengaku bahwa ia beragama nasrani.
Pembicaraan kami berdua berlangsung sejak dari stasiun balapan solo dan baru berakhir di stasiun Gubeng surabaya.
Banyak hal yang kami bicarakan dan tentunya masalah agama dan idiologi.
Diantara yang ia sampai kepada saya adalah keterkejutan dirinya disapa oleh lelaki berjenggot dan celana cingkrang.
Dan sayapun menjelaskan bahwa agama islam mengajarkan ummat ya untuk berbuat baik kepada siapapun bahkan kepada hewan. Islam merestui ummatnya berbuat baik kepada orang kafir asalkan orang kafir itu tidak meremehkan atau melecehkan agama Islam, apalagi sampai memusuhinya.
Saya ramah dengan bapak semacam ini asalkan bapak tudak menyingguh keyakinan saya.
Diantara hal yang ia sampaikan kepada saya; adalah kekecewaannya kepada masyarakat Bali yang menyembah patung bahkan benda atau makhluk hina semisal ular dan lainnya. Menurutnya perilaku itu tidak masuk akal dan bertentangan dengan kodrat atau akal sehat manusia.
Mendengar ucapan tersebut, saya merasa mendapat kesempatan untuk mendakwahi ya. Segera saya menimpali ucapan bapak itu dengan berkata: benar pak, karena itulah saya enggan untuk pergi ke bali, walaupun sudah beberapa kali diundang untuk menyampaikan dakwah di sana.
Perilaku merek benr benar tidak masuk di akal, masak tuhan berupa benda mayi, makhluk yang hina seperti sapi, ular dan yang serupa. Bukankah hewan hewan seperti sapi bisa mati dan DIBUNUH?
Masukkah di akal tuhan bisa DIBUNUH oleh manusia? La bila tuhannya bisa dibunuh dan mati lalu siapa yang LEBIH PANTAS MENJADI TUHAN yang membunuh atau yang dibunuh?
Ucapan saya ini bertujuan MENYISIPKAN pesan kepada bapak tersebut, bahwa tuhan kok bisa mati bahkan dibunuh?
Pesan ini kembali saya tekankan ketika pembicaraan melebar hingga sampai pada tema teroris. Saya katakan kepada bapak tersebut: pak, islam tidak mengajarkan tindak anarkis atau sembarangan membunuh orang hanya karena berbeda agama atau leyakinan.
Dahulu nabi kami Nabi Muhammad shalllallahu alaihi wa sallam di madinah juga bermasyarakat dengan orang orang Yahudi.
Namun demikian saya sadar bahwa tuduhan islam mengajarkan terorisme adalah persepsi dan pendapat orang yang benci dan tidak kenal Islam, sehingga siapapun tidak mungkin bisa memaksakan mereka unuk berhenti membuat opini atau tuduhan tuduhan semacam itu.
Sejatinya bila kita pikirkan dengan baik, Kita semua harus sadar bahwa perilaku ekstrim dan anarkis seperti yang dituduhkan kepada Islam sejatinya telah terjadi sepanjang sejatah ummat manusia.
Kisah Habil dan Qabil menjadi salah satu buktinya. Bahkan tuhan yang bapak yakini yaitu Yesus, juga MENJADI KORBAN tindak anarkis. Tuhan bapak dimusuhi bahkan DIBUNUH dengan cara keji, disalib. Hingga saat ini ummat nasrani meratapi PEMBANTAIAN tuhan mereka yang dilakukan oleh ummat Yahudi.
Bila Yesus yang menurut bapak adalah TUHAN sedangkan menurut kami adalah seorang NABI saja tidak selamat dari tindak ekstrim dan anarkis, apalagi manusia biasa seperti kita ini.
Semoga pesan yang saya sisipkan dalam ingatan bapak di atas dapat membuka pintu hidayah dalam hatinya. Amiin.

Bersambung ....

Sumber : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri

Tuesday, 7 October 2014

Adab Bertetangga



الحمد لله وحده ، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده ، وعلى آله وصحبه وبعد

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka, kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim sangat dibutuhkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).
Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda,
مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Artinya: “Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari no.6014).
Agama Islam menaruh perhatian yang sangat besar kepada pemeluknya dalam segala hal dan urusan. Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, semua tidak luput dari ajarannya. Tak terkecuali dalam masalah adab. Berikut ini diantara adab-adab seorang muslim kepada tetangganya yang patut kita perhatikan.
Menghormati Tetangga dan Berperilaku Baik Terhadap Mereka
Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).
Berkata Al-Hafizh (yang artinya): “Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah mengatakan, ‘Dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga dengan menyampaikan beberapa bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai dengan kemampuan. Seperti hadiah, salam, wajah yang berseri-seri ketika bertemu, memperhatikan keadaannya, membantunya dalam hal yang ia butuhkan dan selainnya, serta menahan sesuatu yang bisa mengganggunya dengan berbagai macam cara, baik secara hissiyyah (terlihat) atau maknawi (tidak terlihat).’” (Fathul Baari: X/456).
Kata tetangga mencangkup tetangga yang muslim dan juga yang kafir, ahli ibadah dan orang fasik, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang memberi manfaat dan yang memberi mudharat, kerabat dekat dan bukan kerabat dekat, rumah yang paling dekat dan paling jauh. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam al-Fath (X/456).
Bangunan Rumah Kita Jangan Mengganggu Tetangga
Usahakan semaksimal mungkin untuk tidak menghalangi mereka mendapatkan sinar matahari atau udara. Kita juga tidak boleh melampaui batas tanah milik tetangga kita, baik dengan merusak ataupun mengubah, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.
Dan termasuk hak-hak bertetangga adalah tidak menghalangi tetangga untuk menancapkan kayu atau meletakkannya di atas dinding untuk membangun kamar atau semisalnya. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wassallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
لاَ يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ
Artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dinding (tembok)nya” (HR.Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau; Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).
Akan tetapi, diperbolehkannya menyandarkan kayu ke dinding tetangga dengan beberapa syarat,
pertama, tidak merusak atau merobohkan dinding tembok;
kedua, dia sangat membutuhkan untuk meletakkan kayu itu di dinding tetangganya;
ketiga, tidak ada cara lain yang memungkinkan untuk membangun selain menyandarkan kepada tembok tetangga.
Apabila salah satu atau sebagian dari ketentuan di atas tidak dipenuhi maka tetangga tidak boleh memanfaatkan bangunan dan menyandarkannya kepada tembok tetangganya karena akan menimbulkan mudharat yang telah terlarang secara syari’at, “Tidak boleh memberi bahaya dan membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah (no.2340); dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya (no.1910,1911)).
Memelihara Hak-hak Tetangga, Terutama Tetangga yang Paling Dekat
Diantara hak tetangga yang harus kita pelihara adalah menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan orang jahat baik saat mereka tidak di rumah maupun di rumah, memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata dari keluarga mereka yang wanita dan merahasiakan aib mereka.
Adapun tetangga paling dekat memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga jauh. Hal ini dikutip dari pertanyaan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang aku beri hadiah?’ Nabi menjawab,
إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكَ باَباً
‘Yang pintunya paling dekat dengan rumahmu’” (HR. Bukhari (no.6020); Ahmad (no.24895); dan Abu Dawud (no.5155)).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam memerintahkan hal tersebut, diketahui bahwa hak tetangga yang paling dekat lebih didahulukan daripada hak tetangga yang jauh. Diantara hikmahnya adalah tetangga dekatlah yang melihat hadiah tersebut atau apa saja yang ada di dalam rumahnya, dan bisa jadi menginginkannya. Lain halnya dengan tetangga jauh. Selain itu, sesungguhnya tetangga yang dekat lebih cepat memberi pertolongan ketika terjadi perkara-perkara penting, terlebih lagi pada waktu-waktu lalai. Demikian penjelasan Al Hafizh dalam Fathul Baari (X/361).
Tidak Mengganggu Tetangga
Seperti mengeraskan suara radio atau TV, melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutupi jalan bagi mereka. Seorang mukmin tidak dihalalkan mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan.
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari Akhir, menunjukkan besarnya bahaya mengganggu tetangga. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).
Dan dalam Hadits lainnya, Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,
وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
Artinya: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. “Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Bukhari (no.6016)).
Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Artinya: “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Muslim (no.46); Ahmad (no.8638); Al Bukhari (no.7818)).
Jangan Kikir untuk Memberikan Nasehat dan Saran kepada Mereka
Sudah seharusnya kita mengajak mereka agar berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasehat baik, tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekan mereka. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wassallam bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami (para shahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya: “Untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin” (HR. Muslim (no.55); Ahmad (no.16493); an-Nasa’I (no.4197); dan Abu Dawud (no.4944)).
Dan nasehat untuk seluruh kaum muslimin adalah termasuk tetangga kita. Tujuannya untuk memberikan kebaikan kepada mereka, termasuk mengajarkan dan memeperkenalkan kepada mereka perkara yang wajib, serta menunjukkan mereka kepada al-haq (kebenaran). Hal ini dijelaskan dalam Kasyful Musykil mim Hadits ash-Shahihain karya Ibnul Jauzi (IV/219).
Memberikan Makanan kepada Tetangga
Rasulullah shallallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
Artinya: “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim). Adapun tetangga yang pintunya lebih dekat dari rumah kita agar lebih didahulukan untuk diberi.
Bergembira ketika Mereka Bergembira dan Berduka ketika Mereka Berduka .
Kita jenguk tetangga kita apabila ia sedang sakit, kita tanyakan kehadirannya apabila ia tidak ada, bersikap baik apabila kita menjumpainya, dan hendaknya sesekali kita undang mereka untuk datang ke rumah kita. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka luluh dan akan menimbulkan rasa kasih sayang kepada kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya paling baik. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dan beliaulah manusia yang memiliki akhlak paling terpuji, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari (no.6035); Ahmad (no.6468); dan at-Tirmidzi (no.1975)).
Tidak Mencari-cari Kesalahan Tetangga
Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan tetangga kita. Jangan pula bahagia apabila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.
Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (yang artinya): “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan diantaranya: “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Ketika kita berinteraksi dengan manusia, pasti ada suatu kekurangan atau perlakuan yang kurang baik dari sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Maka orang yang terzhalimi disunnahkan menahan marah dan memaafkan orang yang menzhaliminya. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syuura: 37).
Dan juga Allah Ta’ala berfirman,
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran:134).
Firman Allah “Dan orang-orang yang menahan amarahnya” yaitu apabila mereka diganggu oleh orang lain sehingga mereka marah dan hati mereka penuh dengan kekesalan yang mengharuskan mereka membalasnya dengan perkataan dan perbuatan, akan tetapi mereka tidak mengamalkan konsekuensi tabi’at manusia tersebut (tidak membalasnya). Bahkan mereka menahan amarah lalu bersabar dan tidak membalas orang yang berbuat jahat kepadanya. Wallahu musta’an
Penyusun: Ambarwati D. Rutiana
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
Maroji':
1. Terjemahan Kitaabul Adab, karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub
2. Terjemahan Adab al-Muslim fil Yaum wal Lailah, penyusun Departemen Ilmiah Darul Wathan
Artikel muslimah.or.id

Wednesday, 12 February 2014

Seni Berdakwah Di Dunia Maya


[Oleh-oleh Seminar Internet Ethics, Ahad, 26 Januari 2014 di Ibnu Hajar Boarding School]
pemateri : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, MA


Berdakwah merupakan perkataan yang paling mulia sebagaimana firman-Nya dalam surat Fushilat : 33

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri."

Dan walhamdulillah dibandingkan di dunia nyata, dakwah di dunia maya mempunyai beberapa kelebihan :
1. Murah, tidak mengeluarkan ongkos transportasi dan lain-lain kecuali untuk berlangganan internetnya
2. Lintas Waktu, artikel/posting seseorang bisa dibaca kapan saja
3. Tanpa beban perasaan, berbeda dengan dakwah di mimbar yang mungkin ada resiko yang berbeda
4. Lintas benua, artikel dakwah kita bisa dinikmati hingga penjuru dunia.

Agar dakwah kita di dunia maya berhasil maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

* Ikhlas antara pujian dan celaan

Yang paling penting sebelum berdakwah, adalah meluruskan niat karena Allah, bahwa kita berdakwah untuk mewarnai bukan diwarnai. Termasuk juga jangan ikut-ikutan memberi laqab, jika dari komentar-komentar kita karena ketidaksukaannya ada yang memberikan panggilan yang buruk kepada kita. Bila mereka memberikan komentar "dasar wahabi', "dasar jenggot', biarkan saja karena hal tersebut biasa dalam dakwah. Dulu Rasulullah shallalalhu 'alaihi wasallam pun juga sering diberikan gelar-gelar yang buruk seperti tukang sihir atau orang gila.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata :

وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ، فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Beliau [rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam] tidak pernah membalas suatu kesalahan yang dilakukan orang kecuali bila keharaman-keharaman Allah 'azza wajalla dilanggar, beliau membalas karena Allah 'azza wajalla." [HR. Muslim no. 2328, ] dan dalam riwayat al-Bukhary no. 6786 : 

وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ

"Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena kepentingan pribadi, dan jika kehormatan Allah dilanggar, beliau marah karena Allah."

Allah Ta'ala berfirman :

"وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." [QS. Fushilat : 34]

Ustadz Arifin Baderi mengisahkan ada orang yang selalu mencaci beliau, namun beliau bersabar menghadapinya dengan membalas "terima kasih telah mengunjungi FP / postingan saya", karena orang yang selalu mencari kesempatan untuk mencaci dalam komentar-komentar sebenarnya dia rindu kepada kita, walhamdulillah, seiring berjalannya waktu, lama-lama, dari orang tersebut kemudian berubah, dari cacian sekarang menjadi memberikan pujian...

Termasuk tanda bila kita sudah keluar dari dakwah yang seharusnya, bila :
- suka dengan pujian
- tujuannya sudah tidak lillah tapi ke-aku-an
- membalas makian dengan makian
Orang yang ikhlas berdakwah karena Allah, maka akan sama baginya antara dipuji atau pun dicaci. Ia tidak merasa untung dengan pujian atau pun rugi karena cacian. Ia tidak menanti pujian dan tidak gentar dengan makian. Bila kita tidak siap dimaki, maka jangan buka komentar, dikhawatirkan akan mengganggu keikhlasan.

* Kuasa Emosi Anda

Merupakan perkara yang susah dalam berdakwah, karena kita cenderung membalas dengan yang sama bahkan lebih.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha

أَنَّ الْيَهُودَ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ قَالَ وَعَلَيْكُمْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ السَّامُ عَلَيْكُمْ وَلَعَنَكُمْ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ أَوْ الْفُحْشَ قَالَتْ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ

"Sekelompok orang Yahudi datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka mengucapkan; "As-Saamu 'alaika (Kebinasaan atasmu)." Beliau menjawab: 'Wa 'alaikum (Dan atas kalian juga).' Kemudian Aisyah berkata; 'As-Saamu 'alaikum wala'anakumullah wa ghadziba 'alaikum (Semoga kebinasaan atas kalian, dan laknat Allah serta murka Allah menimpa kalian).' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Pelan-pelan wahai Aisyah, hendaklah kamu berlemah lembut dan janganlah kamu kasar atau berkata keji.' Aku berkata; 'Apakah anda tidak mendengar apa yang diucapkan mereka? ' Beliau bersabda: 'Apakah kamu tidak mendengar ucapanku, sebenarnya aku tadi telah menjawabnya, maka do'aku atas mereka telah dikabulkan, sementara do'a mereka atasku tidak akan terkabulkan.' [HR. al-Bukhary no. 6401]

Perhatikan, bahwa Nabi shalallalhu 'alaihi wasallam membalasnya sekali dan sepadan, namun Aisyah radhiyallahu 'anha karena tidak bisa menguasai emosinya beliau membalas mendoakannya tiga kali. Padahal doa mereka (orang Yahudi) tidaklah dikabulkan, dan doa mukmin atas mereka dikabulkan. Dan pentingnya kelembutan dalam berdakwah bisa kita lihat di dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali membuatnya rusak.”  [HR. Muslim no. 2594]

Perhatikan bagaimana Ali bin Abi Thalib bersikap terhadap mereka yang memeranginya, dalam Mushonnaf Abdurrazzaq nomor 18656, dari Al-Hasan :

 لَمَّا قَتَلَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْحَرُورِيَّةَ , قَالُوا: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَكُفَّارٌ هُمْ؟ قَالَ: «مِنَ الْكُفْرِ فَرُّوا» قِيلَ: فَمُنَافِقُونَ؟ قَالَ: «إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا وَهَؤُلَاءِ يَذْكُرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا» قِيلَ: فَمَا هُمْ؟ قَالَ: «قَوْمٌ أَصَابَتْهُمْ فِتْنَةٌ , فَعَمُوا فِيهَا وَصُمُّوا»

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ditanya tentang al-haruriyah (khawarij), mereka bertanya, "Ya Amirul Mu'minin, apakah mereka itu orang-orang kafir?" Belia menjawab, "Mereka menjauhi kekufuran." Kemudian beliau ditanya, "Apakah mereka munafiq?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya orag munafiq itu tidak mengingat Allah kecuali sedikit, sedangkan mereka banyak mengingat Allah." Ditanyakan kembali, "Lalu siapakah mereka?" Beliau menjawab, "Mereka kaum yang terjerumus dalam fitnah, sehingga mereka itu tuli dan buta."

Di riwayat lain, ketika ditanya tentang yang memeranginya di perang Jamal, Ali radhiyallahu 'anhu berkata :

إخواننا بغوا علينا  

"Mereka masih saudara kita yang bertindak zhalim terhadap kita." [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/535]

Termasuk menguasai emosi adalah kita tidak melayani komentar-komentar ahlul bid'ah dan orang jahil. Termasuk kebodohan, jika kita akhirnya capek sendiri meladeni mereka terus menerus. Allah berfirman dalam surat al-Furqan ayat 63 :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."

* 3 x 3

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ثلاثٌ مُنجِياتٌ : خَشيةُ اللهِ تعالَى في السِّرِّ والعلانِيَةِ ، والعدلُ في الرِّضا والغضَبِ ، والقصْدُ في الفقْرِ والغِنَى ، وثلاثٌ مُهلِكاتٌ : هوًى مُتَّبَعٌ ، وشُحٌّ مُطاعٌ ، وإِعجابُ المرْءِ بنفْسِهِ

"Tiga hal yang menyelamatkan : 
1. Takut kepada Allah di saat sunyi dan ramai
2. Berlaku adil di saat senang dan marah
3. Sederhana di saat miskin dan kaya

dan tiga hal yang membinasakan :
1. Hawa nafsu yang diikuti
2. Bersikap kikir
3. Membanggakan diri sendiri."
[Shahihul Jami' no. 3039]

* Persiapkan Baik-Baik

Persiapkan apa yang akan kita tulis, jangan asal tulis, jangan pernah menulis kecuali yang baik karena semuanya akann dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke Yaman, beliau bersabda :

إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ 

"Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab." [HR. al-Bukhary no. 4347]

* Kenali Sasaran Anda

Pertimbangkan dahulu siapa saja yang akan membaca artikel/posting kita. Gunakanlah bahasa awam, bukan bahasa kajian. Jika bahasa kajian, maka hanya teman kita yang faham saja yang akan membacanya. Pertimbangkan juga efek dari tulisan kita, menimbulkan efek positifkah atau justru negatif. Juga hindari bahasa menyalahkan, sehingga timbul kesan "antum [kelompok antum] ini maunya benar sendiri.". Mendahulukan tarbiyah daripada tashfiyah. Ingat, bahwa status/artikel kita lebih mirip ibarat jala ketimbang pancing, yang semua ikan bisa masuk. Begitu juga yang membaca dakwah kita, dari orang yang masih jahil, hingga yang memusuhi dakwah.

Ali radhiyallahu 'anhu berkata :

حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ

"Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?" [HR. al-Bukhary no. 127] 

* Waspadai Opini Publik

Mewaspadai opini publik terutama dari saudara-saudara kita yang belum memahami dakwah sehingga menimbulkan image yang buruk. Lihat opini yang timbul di luar, "Tuh sesama ustadz saling menghajr."

Lihat kisah yang diberitakan oleh sahabat Jabir radhiyallahu 'anhu, suatu ketika dalam satu peperangan -sekali waktu Sufyan mengatakan; Dalam suatu perkumpulan pasukan- tiba-tiba seorang laki-laki dari kalangan Anshar mendorong seseorang dari Anshar, maka sang Anshar pun menyeru, "Wahai orang-orang Anshar." Dan sang Muhajir pun berkata, "Wahai orang-orang Muhajirin." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mendengar hal itu, maka beliau bersabda: "Kenapa panggilan-panggilan Jahiliyyah itu masih saja kalian lestarikan?" para sahabat pun berkata, "Wahai Rasulullah, seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin mendorong seorang dari Anshar." Akhirnya beliau bersabda: "Tinggalkanlah, karena hal itu adalah sesuatu yang busuk." Abdullah bin Ubbay yang mendengar hal itu berkata, "Lakukanlah hal itu. Demi Allah, jika kita kembali ke Madinah, niscaya orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina darinya." Berita ungkapan itu pun sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian Umar berdiri, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk menebas leher seorang munafik ini." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ  

"Biarkanlah ia, sehingga orang-orang tidak berkomentar bahwa Muhammad membunuh sahabatnya." 
[HR. al-Bukhary no. 4905, 4907, Muslim no. 2584]

Yang dimaksud manusia disini adalah orang-orang non muslim, karena di kalangan shahabat sendiri sudah mafhum bahwa Abdullah bin Ubbay adalah seorang munafik. Jadi yang dikhawatirkan adalah bagaimana opini dari Yahudi dan Nasrani seandainya Abdullah bin Ubay dibunuh... [Allahu a'lam]

* Hindari Umpatan dan Makian

Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan :

اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ائْذَنُوا لَهُ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ أَوْ ابْنُ الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ أَلَانَ لَهُ الْكَلَامَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْتَ الَّذِي قُلْتَ ثُمَّ أَلَنْتَ لَهُ الْكَلَامَ قَالَ أَيْ عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ أَوْ وَدَعَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

"Seorang laki-laki meminta izin kepada nabi Shallalahu 'alaihi wa sallam, beliau lalu bersabda: "Izinkanlah dia masuk, amat buruklah saudara 'Asyirah (maksudnya kabilah) ini atau amat buruklah Ibnul Asyirah (maksudnya kabilah) ini." Ketika orang itu duduk, beliau berbicara kepadanya dengan suara yang lembut, lalu aku bertanya; "Wahai Rasulullah, anda berkata seperti ini dan ini, namun setelah itu anda berbicara dengannya dengan suara yang lembut, Maka beliau bersabda: "Wahai 'A`isyah, sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan kekejiannya." [HR. al-Bukahry no. 6131, Muslim no. 2591]

* Awas! Jangan Kacaukan Dakwah

Hindari bahasa menyerang, karena akan berhadapan dengan saudara sendiri, dan itu akan merugikan dakwah. Jangan sampai update status kita justru membuat orang lari dari dakwah.

'Uqbah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu berkata :

 أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ غَضَبًا فِي مَوْعِظَةٍ مِنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ لَمُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ فَإِنَّ فِيهِمْ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ

Seseorang mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata; Aku sengaja melambatkan diri pada shalat shubuh karena si fulan yang memperlama shalatnya bersama kami. Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam begitu marah seperti saat itu, beliau bersabda; "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya diantara kalian ada yang membuat orang lari. Siapa saja diantara kalian yang mengimami shalat hendaklah mempercepat karena diantara mereka ada yang lemah, tua dan punya keperluan." [HR. Ahmad no. 22344, menurut syaikh al-Arnauth sanadnya shahih sesuai syarat asy-Syaikhani]

* Pahami Syari'at Targhib & Tarhib

Proporsional dalam memotivasi (targhib) dan memberikan warning (tarhib), jangan langsung kita memberikan warning. 

Allah Ta'ala berfirman :

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[QS. An-Nisa : 165] 

Dalam tafsir ath-Thabari [juz 9 hal. 195] disebutkan  :

جاءت امرأة إلى عبد الله بن مُغَفّل، فسألته عن امرأة فَجرت فَحبِلت، فلما ولدتْ قتلت ولدها؟ فقال ابن مغفل: ما لها؟ لها النار! فانصرفت وهي تبكي، فدعاها ثم قال: ما أرى أمرَك إلا أحدَ أمرين:"من يعمل سوءًا أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورًا رحيمًا"، قال: فَمَسحت عينها ثم مضت

Seorang wanita datang kepada Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu 'anhu, dia bertanya perihal wanita berzina kemudian hamil lalu ia membunuh anak hasil zinanya. Abdullah bin Mughaffal menjawab, " Apa untuknya? Untuknya neraka!" Wanita tersebut segera berpaling sambil terisak-isak menangis. Maka Abdullah bin Mughaffal memanggilnya kembali seraya berkata, "Tidaklah aku melihat urusanmu kecuali salah satu dari dua hal : "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [an-Nisa' : 110] kemudian wanita tersebut mengusap matanya dan segera pergi.

Lihat juga hadits yang disampaikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ يَا مُعَاذُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلَاثًا قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menunggang kendaraan sementara Mu'adz membonceng di belakangnya. Beliau lalu bersabda: "Wahai Mu'adz bin Jabal!" Mu'adz menjawab, "Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu." Beliau memanggil kembali: "Wahai Mu'adz!" Mu'adz menjawab, "Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu." Hal itu hingga terulang tiga kali, beliau lantas bersabda: "Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka." Mu'adz lalu bertanya, "Apakah boleh aku memberitahukan hal itu kepada orang, sehingga mereka bergembira dengannya?" Beliau menjawab: "Nanti mereka jadi malas (untuk beramal)." Mu'adz lalu menyampaikan hadits itu ketika dirinya akan meninggal karena takut dari dosa." [HR. al-Bukhary no. 128]

Semoga bermanfaat

=============

Jakarta, 25 Rabi'ul Awwal 1435H
[bertepatan Senin, 27 Januari 2014]
Abu Aisyah Agung S

Maraji :
- Makalah seminar dari ustadz M. Arifin Baderi [Seni Berdakwah di Dunia Maya]
- Catetan yang tidak lengkap dan ingatan yang mudah lupa
- Maktabah Syamilah, ebook hadits, pustaka hadits 9 imam (lidwa)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More